Sabtu, 26 September 2009

BALAS BUDI

BALAS BUDI ATAS SEMANGKUK NASI PUTIH (SEBUAH KISAH NYATA)
Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang
kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar-mandir di depan
sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu
di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia
masuk ke dalam rumah makan tersebut.
"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk
pemuda
ini berkata kepada pemilik rumah makan.
Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini
hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu
menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.
Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan
pelan, "Dapatkah menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya."
Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, "Ambil saja apa yang engkau
suka, tidak perlu bayar!"
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir, "Kuah sayur gratis."
Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak
lagi nasinya", dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada
pemuda ini.
"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai
makan siang saya."
Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini
tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang ke
kota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan, itu
sudah pasti.

Berpikir sampai di situ pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging
dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi, kemudian membungkus nasi
tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan
kepada pemuda ini.
Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda
ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di
bawah nasi?
Suaminya kemudian membisik kepadanya, "Jika pemuda ini melihat kita
menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah
kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung. Lain kali dia tidak akan
datang lagi. Jika dia ke tempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih,
mana ada gizi untuk bersekolah?"
"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga
dirinya."
"Jika aku tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?" tanyanya
bercanda.
Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada
mereka.
Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikkan badan melihat
dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat!", katanya
sambil
melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini
besok jangan segan-segan datang lagi.
Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore
pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari
hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk
bekal keesokan harinya.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk-pauk
berbeda, yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20
tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.
Pada suatu hari, ketika bapak penjual nasi ini sudah berumur 50 tahun
lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat penggusuran, bahwa rumah makan
mereka menjadi salah satu target yang harus digusur. Alhasil, sontak
mereka kehilangan mata pencaharian dan sedih mengingat anak mereka yang
disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan. Hal itu membuat
suami-istri ini berpelukan menangis sedih, bingung dan bercampur panik.

...

Pada saat itulah, masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek
kelihatannya seperti direktur dari sebuah kantor bonafid.
"Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan. Saya
diinstruksikan oleh direktur kami untuk mengundang kalian membuka kantin
di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian
hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan
dibagi 2 dengan perusahaan."
"Siapakah direktur di perusahaan Anda? Mengapa begitu baik terhadap kami?
Saya tidak ingat ataupun mengenal seseorang yang begitu mulia!" sepasang
suami istri ini berkata dengan terheran-heran bercampur haru.
"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling
suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang
lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."
Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul,
setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun
kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses
untuk kerajaan bisnisnya.
Dia merasa kesuksesan pada saat ini, salah satunya adalah berkat bantuan
sepasang suami istri ini. Jika saja dulu mereka tidak membantunya, dia
tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses
sekarang.
Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan
kantornya.
Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk
dalam-dalam berkata kepada mereka,"Bersemangat, ya! Di kemudian hari
perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok!"
Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah
suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. Jika Anda merasa
tersentuh oleh kisah ini, silakan teruskan pesan ini kepada orang-orang di
sekitar Anda, juga orang-orang yang Anda sayangi.


Siapkah kita kehilangan

Oleh ; Mario Teguh
Bussiness Efectiveness Consultant

SIAPKAH MENGHADAPI KEHILANGAN


Bila kita siap MENDAPATKAN, sudahkan kita juga siap untuk KEHILANGAN ?
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Dari mulai marah-marah, menangis, protes pada takdir, hingga bunuh diri. Masih ingatkah Anda pada tokoh-tokoh ternama, yang tega membunuh diri sendiri hanya karena sukses mereka terancam pudar ? Barangkali kisah yang saya adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns berikut ini, dapat memberikan inspirasi.

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

"Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran.. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
...

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi ? Engkau baik saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi ?
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN TUHAN. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ?
Have a positive day !

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat.
Kita akan menjadi lebih damai bila yang kita pikirkan adalah jalan keluar masalah



Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya
itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua
orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk
menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika
dia bisa melihat dunia.


Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya
sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya
bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah
denganku?" Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata
buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.


Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk
surat singkat kepada gadis itu,

"Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."


...

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status
dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan
hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus
berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang
paling menyakitkan.

Hidup adalah anugerah